Biasa Saja
Ada rasa yang tak sempurna, dari diriku yang biasa saja.
Mungkin aku bukanlah siapa-siapa, yang tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan semua orang yang pernah ada di kehidupanmu. Aku pun menyadari, bahwa tak ada satu pun hal dari diriku yang mampu membuatmu bangga bahwa kamu telah bersamaku.
Aku hanyalah orang yang biasa saja, yang mana tak pernah ada kebaikan bagimu setiap melihat semua apa yang telah aku lakukan. Aku hanyalah orang yang biasa saja, yang tak pernah bisa kamu banggakan di hadapan dunia.
Tak seperti dia atau mereka, yang punya segalanya yang kamu inginkan. Tak seperti dia atau mereka, yang bisa memenuhi semua yang kamu harapkan.
Aku berpikir satu waktu nanti akan ada saat di mana kamu memutuskan untuk pergi. Itu setelah kamu sadari, aku tak sebaik yang kamu harapkan. Dan mungkin entah kapan, semua kekuranganku akan membuatmu sadar, bahwa aku memang bukan orang yang kamu harapkan.
Kini aku tak lagi terlalu banyak menaruh harapan. Karena aku hanyalah manusia yang biasa saja, yang belum pantas mendapat kamu yang terbaik, kamu yang selalu aku rindukan.
Kamu Hanya Cukup Tahu
Mungkin kamu tak akan pernah mampu mengerti, bahwa mencintaimu sekeras yang aku lakukan sangatlah menyiksa.
Mungkin kamu juga tak akan pernah mampu pahami, bahwa aku terus berusaha untuk tetap kuat setiap aku tersungkur lemah karenamu.
Namun biarkan, biarkan itu semua kurasa. Kamu tak harus mengerti, kamu tak harus pahami, betapa sulit aku untuk rebah di hatimu. Kamu hanya cukup tahu, bahwa aku mencintaimu dan tak pernah aku menyesali itu.
Kini, ijinkan aku untuk warnai harimu. Ijinkan aku bahagiakanmu. Ijinkan aku terus mencintaimu. Sambil terus aku pulihkan sedihku.
Thank God, I found her
Saat aku tertahan di titik yang menjatuhkanku, kamu ada untuk menopangku.
Saat aku tertatih dengan segala kelemahanku, kamu datang dan menguatkanku.
Semoga semua kekuranganku mampu membuatmu mengerti, bahwa aku selalu mencintaimu dengan segala keterbatasanku.
Aku tak ingin memintamu untuk menemaniku menjalani sisa hidupku. Lebih dari itu, aku mau memohon padamu untuk mendampingiku dalam jengkal demi jengkal waktu yang kita nikmati bersama.
Mungkin kamu adalah jawaban dari tiap ucap doaku. Mungkin kamu adalah terang dari ujung gelapku. Pahamilah, bahwa kamu adalah syukur di balik sujud kepada Tuhanku. So, thank God, I found her.
Jika Hanya Aku Harus Menyerah Kalah
Jika hanya ada rasa sakit di tiap ingatanmu tentangku, maka lupakan saja aku.
Jika hanya dengan dia kamu bisa bahagia, maka tertawakan saja aku yang terluka.
Jika hanya senyumnya yang bisa membuat harimu menjadi indah, maka buatlah saja aku menangis.
Jika hanya dia yang kamu yakini sebagai masa depanmu, maka anggap saja tiada aku di masa lalumu.
Jika hanya dia yang kamu rasa sebagai anugerah terindah untukmu, maka anggap saja aku merupakan musibah terburuk dalam hidupmu.
Dan meski kini aku harus menyerah kalah, tapi aku bangga bahwa setidaknya aku pernah memenangkan cintamu.
Yang Terbaik Untuk Kita, Tidaklah Sia-Sia
Renyah tawamu hancurkan sedihku, dengan hangat buyarkan dingin perasaanku.
Kamu setitik sinar yang membawa aku melalui gelap perjananku. Bersamamu aku nyaman. Bersamamu aku merasa semua mampu aku lalui dengan indah.
Senyummu yang mampu menguatkan aku dalam tiap lemahku. Wajahmu keindahan dalam tiap murung duniaku.
Namun kini kamu tiada lagi ada seperti saat dulu kala. Teramat cepat semua terunggut dengan kejam. Aku hanya selalu berharap, apa yang telah kita lalui bersama bukanlah sesuatu yang sia-sia.
Salahkah jika aku masih merindumu di antara butiran kenangan yang terus menghujaniku? Aku cukup bisa memahami, ketika kita tak dapat selamanya bersatu. Tuhan sudah merencanakan yang terbaik untuk masing-masing kita, dan kembali itu tidak sia-sia.
Selalu Menguatkan Aku
Saat aku merasa semua berlalu dengan salah, hanya kamu satu alasan yang membuatku tetap benar. Bahwa tak pernah pernah sia-sia aku berjuang untuk yang kucintai. Seperti kumbang yang berusaha mendapat sebuah tempat nyaman di luasnya taman bunga.
Mungkin tak pernah kamu mengerti, aku selalu mencintai setiap resahku merindumu. Sampai rindumu bukan lagi untukku, tak sedikitpun aku melangkah ragu. Dan jika kelak akan ada masa dimana kita bukan lagi menjadi kebanggaan semesta, pernah mengenalmu merupakan kebanggaan terbesar dalam hidupku.
Aku yakin, Tuhan punya maksud ketika Ia mempersilahhkan aku mencintaimu. Dan Tuhan juga punya maksud ketika Ia membiarkanmu melepasku. Ketika akhirnya keterpurukan melemahkanku, cintaku padamu yang selalu mampu menguatkan aku.
Bukan Salah Tuhan, Aku Jatuh Cinta
Sudah sekian lama aku tak lagi merasakan manisnya cinta. Bahkan mungkin aku telah lupa bagaimana indahnya hidup ketika dilanda asmara.
Namun saat itu tiba jua. Saat dimana aku merasa ada yang berbeda. Saat dimana aku merasa lukaku perlahan mengering dan sirna. Saat dimana ada kamu di setiap mentari menyambut pagi.
Aku tak bisa menerjemahkan apa yang aku rasakan. Aku tak mampu mengartikan kedekatan antara kita. Yang aku tahu, kamu menjelma menjadi sejuk semangat di tiap hela nafasku. Mungkin aku hanya terlalu besar berharap, kepada hati yang belum berhasil aku pahami. Mungkin aku salah menduga, jika kamu adalah orang yang tepat sebagai penawar luka.
Kini, luka lama kembali menganga. Luka baru darimu justru semakin memperdalamnya. Tapi yang selalu aku percaya, Tuhan tidak pernah salah dalam mempertemukan kita. Dan Tuhan juga tak pernah salah, telah membiarkan cintaku jatuh pada nyaman hatimu.
Kita Di Antara Senja
Suatu sore, di penghujung hari. Kepada langit jingga dan gulungan ombak, mereka jadi saksi sebuah luka.

Kita duduk bersama, di antara senja. Saling terdiam, menatap surya yang kian terbenam ditelan lautan. Kepada jarak dan waktu, terima kasih telah menjadikan kami mengerti arti sebuah pertemuan. Terima kasih kepada langit, telah menjadi kanvas teramat luas guna kami melukis mimpi.
“Lihat, mentari bersiap pergi sore ini untuk kembali di keesokan pagi.”, kataku.
“Benar. Dan rembulan segera hadir menghias malam, setelah sembunyi pagi tadi.”, jawabmu.
“Sungguh indah mereka. Tak pernah bertemu, namun tak henti saling mencari. Bukan begitu?”, kataku.
Kali ini kamu tak menjawab. Kamu hanya tertunduk dan melempar sebuah senyum yang tampak sangat kamu paksakan.
“Apakah cinta kita bisa sehebat mereka? Tetap selalu mencinta tanpa harus selalu jumpa dan bertatap muka. Akankah cinta kita akan sekuat mereka? Yang selalu setia lalui ruang dan waktu, siang dan malam, tanpa tahu kapan akan ada ujung yang akhiri semua.”, kataku.
Kamu lalu menatapku tajam dan berkata, “Tolong jangan bicara lagi. Aku sudah lelah dengan semua. Aku sudah lelah terus berpura-pura. Kamu pikir aku sehebat mereka? Maka biarkan aku melemparmu ke tengah samudera, agar kamu tahu sekuat apa aku.”.
Lalu kita kembali terdiam. Di saat itulah aku benar-benar memahami apa yang telah terjadi. Selama ini, cintamu semakin redup bak mentari yang dilahap senja, kemudian perlahan sirna. Selama ini ada yang kamu sembunyikan, kamu simpan, untuk kamu muntahkan di hadapanku. Kemudian terlintas di benakku, ini akan menjadi sebuah perpisahan, seperti senja, kala mentari meninggalkan hari.
Bukan dengan mereka, tapi kita. Kita telah temukan ujungnya yang membuat kita harus melangkah menjauh. Dan untukku, ini adalah sakit yang teramat indah. Dimana aku menerima sebuah tikaman luka yang disaksikan senja. Namun setidaknya, cintaku masih sehebat dan sekuat mereka.
Hatiku Pecahan Kaca
Hatiku pecahan kaca yang jatuh berserakan.
Dulu aku bisa melihat aku dan kamu di dalamnya, namun kini untuk melihatku seorang diri saja tak cukup bisa.
Tapi biarkan aku berbaring di antara goresan-goresan yang masih membekas tajam. Aku masih ingin memandang keindahanmu yang belum mampu aku relakan.
Tapi biarkan aku tetap menengadahkan ke dua tangan. Aku yakin Tuhan mengerti bahwasanya cintaku belum padam.
Telaga Waktu
Aku merenung di tengah-tengah telaga. Di susunan bambu kering yang perlahan tergenang, berteman kabut halus beriring senja. Dalam dawai-dawai indah nada, di antara keraguan, ku temukan jalan pulang.
Aku sampai pada pemahaman ketika cinta bukan merupakan sesuatu yang direncanakan, kemudian hadirnya menghentak perasaan. Aku ingin terbang, tapi tak mungkin. Aku hanya memiliki sebelah sayap yang rapuh. Dan jika bidadari cantik sepertimu memberikan sebelah sayapnya, aku ketakutan. Aku ingin kamu terbang bersamaku, bukan karena kasihan, namun karena kamu ingin.
Jika ini cinta, Tuhan tolong jangan biarkan aku tenggelam. Hatiku serupa telaga yang dalam. Aku ingin berteriak kepada langit kelabu, bahwa sesungguhnya aku tak membutuhkan rasa ibanya. Aku juga ingin berteriak kepadamu, apakah harus ada tangis untuk munculkan pelangi di matamu?
Aku membayangkan kita adalah sepasang kupu-kupu yang terbang bersama untuk mengintip mimpi. Kemudian silahkan kamu putuskan, apakah kamu akan mewujudkan bersamaku atau pergi mencari mimpimu sendiri. Aku belajar mencintai hal yang tak aku suka. Saat aku harus menunggumu tanpa tahu kapan kamu akan kembali. Aku hanya mencoba menikmati jengkal demi jengkal langkahku berbalik arah. Tapi aku masih berharap, ketika aku mulai beranjak akan ada kamu yang sekejap datang menghentikanku dan menahanku untuk tak kemana-mana.
Semua kurasa begitu cepat dan tiba-tiba. Aku harus memutuskan di saat yang sama. Dadaku semakin sesak. Sepertinya cinta benar-benar telah menenggelamkan aku. Jauh dan dalam, di dasar telaga waktu.
