Obrolan Singkat Di Sore Hari
Sekedar perbincangan ringan saya via sms dengan seorang teman lama, Puput. :)
~~~
“Hai, Fan. Sedang apa kamu di bawah teduh remang langit sore ini?”
“Hai, Put. Aku hanya sedang memikirkan, kira-kira apa yang sedang kamu lakukan.”
“Ah, kamu memang selalu pandai membolak-balikkan omongan! Menyebalkan!”
“Put, yang terpenting aku tidak pandai bahkan tidak pernah membolak-balikkan perasaan.”
“Kamu itu sangat menyebalkan. Tiap harusnya aku jengkel sama kamu, tapi kamu selalu saja bisa membuat aku mendadak tersenyum malu.”
“Put, jika Tuhan menciptakan makhluk secantik kamu, akan sangat disayangkan jika aku diciptakan hanya untuk membuatmu cemberut dengan mulut manyunmu yang jelek.”
“Hei! Kamu ya, Fan! Baru saja membuatku senyum, tapi sekarang sudah berubah sangat menyebalkan lagi. Kamu itu seperti serigala berbulu hidung!”
“Sudahlah, kamu jangan marah-marah terus. Kamu lebih mirip seperti Ibu tiri yang galak, daripada gadis yang pernah aku cintai.”
“Jadi, kamu menyesal pernah menaruh hati padaku?”
“Kenapa harus menyesal? Tentu tidak. Kamu yang harusnya menyesal, telah melepas pria sehebat aku.”
“Setiap aku ngobrol sama kamu, kamu selalu saja bisa menjatuhkan aku tak berdaya.”
“Sesungguhnya, aku menjatuhkanmu agar aku bisa kembali mengangkatmu dalam dekapku.”
“Aku menyerah. Tak dapat dipungkiri, semua sedih, jengkel, tawa, tangis, kamu memang pandai merangkainya dengan indah.”
“Kamu bisa berkata bahwa aku bisa melakukan sesuatu yang indah. Tapi apa kamu sadari, bahwa sesungguhnya kamu yang terindah?”
”:) Terima kasih, sudah membuat soreku kembali cerah. Dan langitpun juga ikut tertawa riang karena semua rangkaian katamu.”
“Terima kasih juga, telah mau berbincang denganku. Semenjak hati kita tak lagi satu, itu menjadi hal yang tabu. :)”
“Kamu ya, memang selalu saja bisa mengambil celah omongan! :)) Selamat petang, pria hebat. ;)”
“Semua celah bisa kuambil. :p Mungkin hanya ada satu pengecualian yang tak bisa kuambil, celah hati dan perasaanmu. Selamat petang, masa lalu yang hebat. :D”
Kita Di Antara Senja
Suatu sore, di penghujung hari. Kepada langit jingga dan gulungan ombak, mereka jadi saksi sebuah luka.

Kita duduk bersama, di antara senja. Saling terdiam, menatap surya yang kian terbenam ditelan lautan. Kepada jarak dan waktu, terima kasih telah menjadikan kami mengerti arti sebuah pertemuan. Terima kasih kepada langit, telah menjadi kanvas teramat luas guna kami melukis mimpi.
“Lihat, mentari bersiap pergi sore ini untuk kembali di keesokan pagi.”, kataku.
“Benar. Dan rembulan segera hadir menghias malam, setelah sembunyi pagi tadi.”, jawabmu.
“Sungguh indah mereka. Tak pernah bertemu, namun tak henti saling mencari. Bukan begitu?”, kataku.
Kali ini kamu tak menjawab. Kamu hanya tertunduk dan melempar sebuah senyum yang tampak sangat kamu paksakan.
“Apakah cinta kita bisa sehebat mereka? Tetap selalu mencinta tanpa harus selalu jumpa dan bertatap muka. Akankah cinta kita akan sekuat mereka? Yang selalu setia lalui ruang dan waktu, siang dan malam, tanpa tahu kapan akan ada ujung yang akhiri semua.”, kataku.
Kamu lalu menatapku tajam dan berkata, “Tolong jangan bicara lagi. Aku sudah lelah dengan semua. Aku sudah lelah terus berpura-pura. Kamu pikir aku sehebat mereka? Maka biarkan aku melemparmu ke tengah samudera, agar kamu tahu sekuat apa aku.”.
Lalu kita kembali terdiam. Di saat itulah aku benar-benar memahami apa yang telah terjadi. Selama ini, cintamu semakin redup bak mentari yang dilahap senja, kemudian perlahan sirna. Selama ini ada yang kamu sembunyikan, kamu simpan, untuk kamu muntahkan di hadapanku. Kemudian terlintas di benakku, ini akan menjadi sebuah perpisahan, seperti senja, kala mentari meninggalkan hari.
Bukan dengan mereka, tapi kita. Kita telah temukan ujungnya yang membuat kita harus melangkah menjauh. Dan untukku, ini adalah sakit yang teramat indah. Dimana aku menerima sebuah tikaman luka yang disaksikan senja. Namun setidaknya, cintaku masih sehebat dan sekuat mereka.
